Sekarang ini banyak sekali penanganan anak dengan kebutuhan khusus tetapi yang menjadi masalah adalah tidak semua sekolah mempunyai kualitas yang baik. Sekolah-sekolah umum di Indonesia belum mampu untuk menerima anak-anak kebutuhan khusus karena keterbatasan sumber daya manusia dan fasilitas sedangkan pemerintah sendiri kurang memperhatikan pendidikan anak-anak dengan kebutuhan khusus ini dan menganggap sebagai masalah kecil, ini terbukti dengan tidak adanya undang-undang yang mengatur tentang hak pendidikan anak-anak dengan kebutuhan khusus padahal kalau kita melihat perkembangan populasi anak-anak ini setiap tahun semakin meningkat. Untuk itu para orangtua cenderung menyekolahkan anaknya dirumah (home schooling) karena hanya ini satu-satunya cara yang bisa ditempuh.
Dengan home schooling yang dibantu oleh para ahli & profesional di bidangnya, anak-anak dengan kebutuhan khusus ini jauh lebih bisa berkembang dan dapat mengoptimalkan bakatnya serta orangtua pun dapat mengatur waktu yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Setelah anak-anak ini mampu mengikuti pelajaran akademik dan non akademik, maka bisa diikutkan program kejar paket (A, B, C) untuk mendapatkan ijazah yang setara dengan anak-anak lainnya supaya dapat berkompetisi di dunia kerja dan masyarakat. Home schooling ini lebih menitik beratkan pada life skill (kecakapan hidup), self help skill (kemandirian) & character building (pengembangan karakter) dan bukan hanya akademik. Berikut ini beberapa penjelasan mengapa orangtua sebaiknya memilih home schooling daripada sekolah regular.
Autism Home Schooling - Terobosan Baru Dunia Pendidikan
Mengapa orangtua memilih untuk menyekolahkan anaknya dengan sistem home schooling?
- Orangtua ragu-ragu untuk mengirimkan anaknya kesekolah umum/sekolah negeri
- Untuk beberapa orangtua, sekolah umum identik dengan “rusak, penuh keramaian dan tidak produktif”
- Dibandingkan sekolah privat (yang secara umum biayanya sangat mahal), home schooling menyediakan mutu pendidikan terbaik
- Saat ini ± 2 juta siswa memilih home school di Amerika dan jumlahnya meningkat tiap tahun
- Home schooling memungkinkan orangtua belajar lebih banyak – tidak hanya anak!
- Siswa belajar lebih efisien karena mereka dapat mengakses orangtua secara langsung daripada berkompetisi dengan selusin siswa lain hanya untuk satu guru
Apakah para siswa home school mendapatkan penerimaan dari masyarakat?
- Dengan meningkatnya jumlah siswa home school, maka menjamur pula jumlah club-club, organisasi-organisasi, tim-tim, dan jaringan-jaringan
- Perpustakaan, Organisasi Pemuda, Museum dan sejumlah tempat umum juga terbuka bagi siswa dengan memberikan fasilitas khusus siswa home school
- Siswa home school juga dapat menikmati fasilitas-fasilitas yang dimiliki kebanyakan sekolah umum (karya wisata, koran, ekskul tari, beragam cabang olahraga)
Dinegara bagian Michigan, Amerika, terdapat beberapa kelompok-kelompok pendukung
- Sekolah-sekolah seperti Clonlara (Ann Arbor) dan Westland Christian Academy menyediakan sumber daya yang diperlukan siswa home school
- Sekolah Hillsdale menyediakan program K-12 (SD-SMP) untuk siswa home school
- Beberapa website berbeda menyediakan kurikulum online bagi siswa home school
Hasil dari home schooling sangat mengejutkan!
- Siswa home school di Amerika mampu mengerjakan tes nasional masuk keperguruan tinggi, dengan hasil kelulusan 70%-80%
- Secara akademik keseluruhan para siswa home school lebih baik dibandingkan siswa dari sekolah umum
- Siswa home school lebih mudah diarahkan dibandingkan siswa dari sumber pendidikan lain
- Penelitian menunjukkan siswa home school lebih percaya diri dibandingkan teman sebaya mereka dari sekolah umum
Home schooling adalah sistem pendidikan yang berkelanjutan dengan dinamika yang proporsional. Para orangtua telah membuktikan bahwa siswa yang belajar dirumah diperlengkapi lebih baik untuk menghadapi “dunia luar”. Siswa menikmati keuntungan yang sama dengan siswa yang lain. Dengan semakin banyaknya orangtua mempelajari home schooling, lebih banyak komunitas juga membuka kesempatan untuk terobosan baru dunia pendidikan ini.
Berikut adalah terjemahan dari kisah Tammy Glaser, pendiri Aut-2B-Home,
Homeschooling Children Who “Aut” to Be Home Amerika
Homeschooling ini berdiri pada September 1996, oleh Tammy Glaser dan suami, setelah mereka berhenti dari Angkatan Laut ditahun 1995 untuk menghomeschool anak mereka, Pamela dan David. Pamela, 16, autistic dan setelah melewati lebih dari 10 tahun perjalanan home school, mereka belajar banyak dari Pamela tentang bagaimana meminimalkan ketidakmampuannya. Mereka mulai dengan mengikuti workshop dan membaca secara intensifprogram-program terbaik yang tepat digunakan bagi anak dengan kebutuhan autis : Sensory Integration, Social Story, TEACCH, ABA, patterning, AIT, dan Learning Styles.
Riset terbaru : “Orangtua yang menerapi anak, yang menerima terapi 6 jam setiap bulan (dalam intervensi dini terapi perilaku) sama baiknya dengan klinik yang menerapi anak, meskipun mereka menerima hanya sedikit terapi profesional. Ini adalah hasil yang tidak diduga-duga, mereka membuka jaringan dengan grup-grup bagi remaja yang memungkinkan anak perempuan mereka dapat bergaul dengan teman sebaya dan anak-anak berbagai tingkat usia dalam lingkungan yang harmonis.
Mereka juga bekerjasama dengan sesame home schooler di internet yang menyediakan dukungan moral yang luar biasa, pengetahuan dan harapan. Mereka berfokus pada kelebihan, kesukaan dan kemampuan Pamela yang unik untuk membantu dia meminimalkan kekurangannya, memungkinkan sukses yang satu mengikuti sukses yang lainnya.
Rumah mereka didesain sangat tenang, dengan seting tempat yang bebas stress yang memungkinkan Pamela belajar menurut caranya tanpa gangguan yang membuat frustasi dan membuang waktu. Diet GFCF dan intervensi nutrisi lebih mudah diterapkan dirumah. Protokol ini memungkinkan putri mereka mencapai kemajuan yang lebih pesat.
Anak-anak autistic dengan tingkat menengah dan berat biasanya ditempatkan ditempat dengan penanganan khusus. Mereka seringkali dikategorikan sebagai anak dengan gangguan emosional, tidak bergaul dengan teman sebaya karena tidak punya kemampuan bersosialisasi dengan baik. Para siswa homeschool bergabung dengan aktivitas umum dengan kelompok percontohan social yang baik seperti aktivis support grup, gereja, kelompok pemuda, kursus (musik, olahraga, seni), dll.
Kebanyakan spectrum anak-anak ini sangat sensitive dengan suara, menghindari kebisingan. Satu kelas dengan 22 anak sangatlah ramai, memecahkan konsentrasi. Siswa home schooler harus tenang ketika belajar dan dapat lebih maksimal mengadaptasi suatu kemampuan dalam seting situasi yang sangat sedikit gangguan suara.
Selama jam belajar berlangsung, anak-anak biasanya diperintahkan duduk dimeja mereka dan terlupakan untuk bersosialisasi. Sekolah-sekolah cenderung mengumpulkan kelas dengan angka teman sebaya yang banyak, tetapi rendah dalam kualitas sosialisasi. (interaksi 1 : 1 antar perorangan yang saling berbagi kesukaan, daripada jumlah atau umur yang sama)
Sekolah mengijinkan kualitas sosialisasi sebelum gym, istirahat dan makan siang—sehingga sangat sulit bagi anak-anak autistik berhadapan dengan kebisingan dan kerusuhan. Orangtua yang memakai metode home schooling memilih sendiri setting sosial untuk meminimalkan distraksi dan memaksimalkan talenta anak mereka.
Tammy Glaser tidak mengumpulkan 22 orang dengan umur yang sama. Autis dewasa bersosialisasi seperti kita—dengan orang-orang dari usia yang berbeda-beda yang berbagi kesukaan. Siswa homeschooler melihat sosialisasi dengan lebih alami : berbelanja, kegereja, hobi, perpustakaan, keluarga dll. Pamela baru saja tampil dalam pertunjukan musical bersama anak-anak prasekolah dalam pertunjukan musim panas setempat!