"Yang Terpenting Dari Pendidikan Bukanlah Mengajarkan Anak Begini dan Begitu, Melainkan Mendewasakan Pikiran dan Membangkitkan Energi Mereka" (Soren Kier Kegaard)

Attention Deficit Disorder (ADD)

Menurut American National Insitute of Health, pada tahun 2000 ditemukan sekitar 3 – 5 % anak – anak di Amerika menderita Attention Deficit Disorders / Attention Deficit, Hyperactivity Disorders (ADD/ADHD). Penyakit yang disebabkan faktor genetik ini mulai mendapat perhatian karena penderitanya terus bertambah.
Studi lain menemukan sekitar 2-10% populasi anak sekolah di Amerika menderita ADHD. Sementara di Indonesia, dalam populasi anak sekolah, ada 2-4% anak yang menderita ADHD. Namun, di kota-kota besar, seperti Jakarta, persentasenya bisa lebih tinggi lagi. Minimal ada lebih dari 10% anak penderita ADHD. Dan, yang agak memprihatinkan adalah, diperkirakan akan ada sekitar 7.000 kasus baru setiap tahunnya!
Kenali ciri – ciri penderita ADD/ADHD:
  • Gampang beralih perhatian / konsentrasi terganggu.
  • Suka menghisap jari dan menggigit kuku, baju dan selimut.
  • Impulsif.
  • Tidak ada perhatian/masa bodoh/cuek.
  • Gelisah dan kuatir.
  • Membuat bunyi – bunyian yang tidak semestinya.
  • Pemarah.
  • Suka mengamuk, menyendiri, mengeluh.
  • Mudah tersinggung.
  • Mudah terserang penyakit.
Anak yang menderita ADD/ADHD baru terasa bermasalah jika sudah masuk playgroup/sekolah. Penderita ADD/ADHD mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian (defisit dalam memusatkan perhatian) sehingga tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya secara baik. Tidak hanya itu, mereka juga mengalami kesulitan dalam bermain bersama temannya karena tidak memiliki perhatian yang baik.
Terhadap kondisi siswa yang demikian, biasanya para guru sangat susah mengatur dan mendidiknya. Di samping karena keadaan dirinya yang sangat sulit untuk tenang, juga karena anak hiperaktif sering mengganggu orang lain, suka memotong pembicaran guru atau teman, dan mengalami kesulitan dalam memahami sesuatu yang diajarkan guru kepadanya. Selain itu juga, prestasi belajar anak hiperaktif juga tidak bisa maksimal.
Secara psikologis, perkembangan kognisi anak-anak yang menderita hiperaktif biasanya termasuk dalam kategori normal. Jika prestasi akademik mereka rendah, sebenarnya bukan karena perkembangan kognisinya yang bermasalah, tetapi lebih disebabkan karena ketidakmampuan mereka untuk konsentrasi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas.
Tips Agar si Kecil Tenang
  • Lingkungan rumah harus tenang.
  • Suasana kamar teduh.
  • Terapkan aturan dengan tegas.
  • Sediakan ruangan untuk santai.
  • Biasakan anak mengekspresikan emosinya dalam bentuk tulisan atau gambar.
  • Piknik ke tempat yang indah dapat membantu si kecil menanamkan hal-hal positif di dalam pikiran.
  • Aturlah pola makan. Hindari konsumsi gula dan bahan makanan berkadar karbohidrat tinggi.
  • Ajari anak untuk berlatih menenangkan diri sendiri. Caranya, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya melalui mulut. Ulangi beberapa kali.
ADHD atau ADD membutuhkan terapi, dan yang terlibat dalam terapi tersebut adalah Orang tua, guru, dan tentunya anak itu sendiri.