Autisme adalah gangguan perkembangan berat yang mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain. Penyandang autis tidak dapat berhubungan dengan orang lain secara berarti, serta kemampuannya untuk membangun hubungan dengan orang lain terganggu karena ketidak mampuannya untuk berkomunikasi dan untuk mengerti perasaan orang lain.Penyandang autis memiliki gangguan pada interaksi sosial (kesulitan dengan hubungan sosial, sebagai contoh, terlihat aneh dan berbeda dari orang lain), komunikasi (kesulitan dengan komunikasi verbal maupun non verbal, sebagai contoh, tidak mengerti arti dari gerak tubuh, ekspresi muka atau nada/warna suara), imajinasi (kesulitan dalam bermain dan berimajinasi, sebagai contoh, terbatasnya aktivitas bermain, mungkin hanya mencontoh dan mengikuti secara kaku dan berulang-ulang), pola perilaku repetitif dan resistensi (tidak mudah mengikuti/menyesuaikan) terhadap perubahan pada rutinitas.
Kriteria diagnostik untuk autisme yang disetujui oleh hampir seluruh pihak yang berwenang adalah : gangguan berat dalam hal hubungan timbal-balik sosial; dalam perkembangan komunikasi (termasuk bahasa); perilaku terbatas dan berulang-ulang (repetitif), keterbatasan kesukaan, aktivitas, dan imajinasi; dan tanda-tanda awal terjadi pada dini usia (sebelum usia tiga hingga lima tahun). Banyak penulis juga mempertimbangkan kriteria seperti adanya respon abnormal terhadap rangsangan sensorik.
Ada dua tipe dasar autisme : autisme sejak lahir (autisme klasik yang pernah dikenal dengan nama sindrom Kanner’s) dan autisme regresif yang biasanya muncul antara usia 12 sampai 24 bulan setelah periode perkembangan dan tingkah laku normal. Insiden autisme sejak lahir jarang terjadi – satu atau dua dari 10.000 kelahiran. Gejala sudah nampak sebelum anak berumur 3 tahun, dapat terjadi pada siapa saja, tidak ada perbedaan suku, bangsa, status sosial ekonomi dan pendidikan, pada IQ yang rendah sampai jenius. Bisa saja anak sudah berkembang relatif normal sebelum 3 tahun kemudian berhenti dan mengalami kemunduran. Tambahan lagi prevalensi autisme pada anak laki-laki empat kali lebih besar dibandingkan anak perempuan.
Autistic Spectrum Disorder (ASD) adalah suatu grup gangguan perkembangan anak yang berkisar dari autisme klasik seperti dijelaskan di atas sampai Attention Deficit Disorder (ADD), Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan Pervasive Developmental Disorder (PDD). PDD adalah diagnosis yang diberikan kepada anak-anak apabila mereka tidak mencapai tonggak-tonggak seperti seharusnya dan menunjukkan gejala-gejala autisme, tetapi masih memiliki sedikit kemampuan untuk berbicara dan berkomunikasi. Seorang anak yang didiagnosa dengan ADD memiliki kesulitan dalam mempertahankan kemampuan memusatkan perhatiannya. Seorang anak hiperaktif dengan ADD diberi label ADHD. Keduanya dianggap sebagai bentuk ASD yang lebih ringan. Umumnya, para orangtua tidak mencari pertolongan untuk anak-anak dengan kondisi ini sampai mereka menyadari bahwa anaknya tidak dapat berbicara atau berkembang secepat anak-anak balita lainnya.
Ditingkat paling atas dari spektrum autis adalah Asperger’s Syndrome. Istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan seorang anak autistik yang dapat berfungsi pada tingkat lebih tinggi. Anak-anak Asperger seringkali merupakan anak-anak yang luar biasa cerdas. Mereka menggunakan dan mengerti perbendaharaan kata secara luas, tetapi mereka memiliki minat yang sangat sempit dan menunjukkan banyak kekurangan dari segi sosial. Seorang anak Asperger‘s Syndrome bisa sangat ahli mengenai masalah mesin cuci, tapi mesin cuci adalah satu-satunya hal yang ia mau bicarakan.
GANGGUAN ANAK AUTISME
Gangguan Komunikasi :
- Terlambat bicara
- Tak ada usaha untuk komunikasi non verbal dengan bahasa tubuh
- Meracau dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti
- Membeo (echolalia)
- Tak memahami pembicaraan orang lain
Gangguan Interaksi :
- Tak mau menatap mata
- Dipanggil tak menengok
- Tak mau bermain dengan teman sebaya, lebih asyik main sendiri
- Tidak ada empati
Gangguan Perilaku :
- Cuek terhadap lingkungan
- Asyik dengan dunianya sendiri
- Semau-maunya, tidak mau diatur
- Perilaku tak terarah, mondar-mandir, lari-lari, manjat-manjat, berputar-putar, lompat-lompat, ngepak-ngepak tangan dan teriak-teriak
- Agresif atau menyakiti diri sendiri
- Melamun/bengong, terpukau pada benda berputar atau benda yang bergerak
- Kelekatan pada benda tertentu
- Perilaku yang ritualistik
Gangguan Emosi :
- Tertawa, menangis, marah-marah sendiri tanpa sebab
- Emosi tak terkendali : temper tantrum bila tak terkabul keinginannya
- Rasa takut yang tidak wajar
Gangguan Persepsi Sensoris :
- Menjilat-jilat benda
- Mencium-cium benda
- Menutup telinga bila mendengar suara keras dengan nada tertentu
- Tak suka memakai baju dengan bahan yang kasar
- Sangat tahan terhadap rasa sakit
Pada tahun 1987, diseluruh dunia data yang ada 1:5000 anak meningkat pada tahun 1997, data memperlihatkan 1:500 anak. Tahun 2000, bertambah drastis dari 1:150 anak menjadi 1:138 anak pada tahun 2001 (data Defeat Autism Now/DAN! Conference 2001). Data Departemen Pendidikan Amerika Serikat, dalam satu tahun (dari 1998-1999) terdapat peningkatan sebesar 26,01% untuk anak-anak usia sekolah yang diklasifikasikan autistik, jumlah total sekitar dua juta anak diseluruh Amerika (U.S News and World Report, 2000). Di California, jumlah anak sekolah yang didiagnosa autistik meningkat 210% dalam periode sebelas tahun. Sejauh ini sudah terjadi peningkatan Autistic Spectrum Disorder (ASD) tujuh kali lipat dalam satu dekade terakhir. Peningkatan juga terjadi dibenua Eropa. Sejak tanggal 2 April 2003, oleh United Nations (PBB) diklaim sebagai hari waspada autis diseluruh dunia.
Tidak ada satu orangpun yang mengklaim mengerti semua penyebab epidemi ini, tetapi teori-teori yang ada menunjukkan kasus autisme muncul dari kombinasi faktor genetika dan lingkungan. Namun pada banyak kasus individu, faktor lingkunganlah yang menjadi pemicu utama bagi gen anak yang bersangkutan sehingga memunculkan kelainan tersebut. Serangan faktor lingkungan dapat terjadi sebelum kelahiran ketika janin masih dalam tahap berkembang dalam kandungan atau ketika anak tersebut balita. Serangan faktor lingkungan ditengarai membebani sistem imun tubuh yang belum atau baru saja berkembang. Hal ini seringkali menyebabkan sistem imun tubuh anak-anak berbalik arah, menyerang tubuh mereka sendiri. Saat sistem imun tubuh mulai menyerang tubuh sendiri, proses ini disebut autoimunitas. Alergi, arthritis dan diabetes adalah contoh autoimunitas. Banyak anak autis/ASD memiliki keluarga dengan sejarah penyakit autoimunitas.
Anak-anak dengan autisme hampir selalu memiliki penyimpangan kesehatan fisik yang menjadi dasar permasalahan mereka terutama masalah gangguan saluran cerna yang harus segera ditangani. Penelitian Woody McGinnis, MD menemukan bahwa 69% menderita esofagitis (radang esophagus/tenggorokan), 42% menderita gastritis (radang lambung), 67% menderita duodenitis (radang usus dua belas jari) dan 88% menderita colitis (radang usus besar). Anak autistik seringkali terbangun ditengah malam disebabkan oleh gangguan refluks dari lambung yang menjengkelkan. Gangguan pencernaan yang terus menerus itu jelas terlihat pada anak-anak yang menderita diare menahun yang sulit disembuhkan, sembelit atau keduanya berselang-seling seperti yang sering ditunjukkan oleh riwayat medis anak ASD. Sejumlah besar ketidaknormalan biokimiawi dan biologis telah teridentifikasi ada pada anak-anak dan juga orang dewasa autistik. James Laidler, MD, menyatakan “Pengobatan yang bermanfaat adalah pengobatan yang ditujukan untuk mengatasi abnormalitas yang terjadi”. Berbagai penelitian oleh Dr.William Walsh, Dr.William Shaw, dan lainnya menunjukkan sejumlah besar anak autistik kekurangan Seng/Zinc, B6 dan GLA (Asam Gamma Linolenat) dan juga kadar metionin yang rendah karena buruknya kualitas protein yang dikonsumsi.
Anak-anak dengan kebutuhan khusus dalam jumlah yang terus meningkat, berupaya mengubah dasar paradigma kebudayaan – mengubah cara kita memandang dunia, mendidik anak kita, berhubungan satu sama lain dan terutama, bagaiman cara kita belajar menjadi lebih “hidup”.